Ketika Kebenaran Dibungkam, Maka Damai Kehilangan Makna

Redaksi 15 April 2026 3 menit baca
Bagikan:
Ketika Kebenaran Dibungkam, Maka Damai Kehilangan Makna

JAMBICYBER.ID, JAMBI - Di kampus yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya akal sehat dan peradaban, justru berulang kali kita menyaksikan luka yang sama: kekerasan terhadap manusia, dan penghinaan terhadap nilai.

Ketika 27 Agus 2025 dalam kegiatan PBAK di Kampus UIN STS Jambi yang konon katanya merupakan Kampus Islam di Jambi seorang kader (HMI) dikeroyok oleh puluhan kader PMII dan benderanya diinjak-injak, yang tercabik bukan hanya tubuh dan simbol—tetapi juga harga diri intelektual kampus itu sendiri.

Lebih menyakitkan lagi, kebenaran seakan dipaksa untuk diam. Pelaku bersembunyi di balik kerumunan, enggan membuka siapa saja yang terlibat. Sementara pihak kampus seolah menutup mata terhadap kejadian kekerasan dan premanisme dikampus tersebut dari tahun ke tahun, hanya sekedat meminta maaf saja ke masyarakat Jambi Rektor tidak mau. Jangan hanya karena merasa berkuasa maka kami merasa seolah-olah ada bayang-bayang kekuasaan yang diduga ikut menutup tirai fakta. 

Kampus, yang semestinya menjadi rumah kejujuran, justru terancam menjadi ruang sunyi bagi keadilan.

Kita tidak sedang berhadapan dengan satu peristiwa. Ini adalah pola, luka yang terus diulang.

Seolah-olah kekerasan ini dibiarkan, dan diam yang sengaja dipelihara. 

Konon kabarnya pasca kejadian ada Tim Investigasi yang dibentuk oleh Senat UIN STS Jambi, tapi kami meyakinitim ini juga hanya sekedar formalitas hasilnya tidak pernah dibuka dan dibentangkan kepada dunia kampus dan masyarakat Jambi. Kemudian kalau hasil Tim Investigasi tersebut ada yang bersalah kira-kira apa sanksi kepada Mahasiswa/i yang bersalah itu. Ternyata Rektor juga diam, walaupun teriakan-teriakan dari keluarga besar HMI mempertanyakan hasil terswbut seolah pihak kampus menutup mata dan telinganya.

Lalu, bagaimana mungkin ketika sebagian pelaku tindak kekerasan itu ditetapkan TERSANGKA oleh POLDA Jambi, sementara kasus pelecehan terhadap simbol idiologi HMI belum ada perkembangan dari Polda Jambi, Ketua Umum Korkom UIN STS Jambi sudah berkali-kali dimintai keterangan dengan membawa bukti dan saksi yang lengkap, ini sudah lebih dari 7 bulan. 

Bahwa kemudian pihak kampus dan berteriak-teriak ramai-ramai mau bicara tentang DAMAI ?

Damai itu bukan sekadar hanya berjabat tangan di atas luka yang masih menganga. Damai itu bukan hanya sekedar kesepakatan sunyi yang mengubur kebenaran hidup-hidup. Damai sejati itu adalah menuntut keberanian: keberanian untuk mengakui, untuk membuka, untuk bertanggung jawab.

Tanpa itu, damai hanyalah ilusi—tirai tipis yang menutupi bara konflik yang suatu hari akan kembali menyala lebih besar.

Jika hari ini pelaku dibiarkan tanpa nama, jika hari ini kebenaran ditukar dengan kenyamanan semu, maka esok hari kekerasan akan menemukan jalannya kembali. Mungkin dengan wajah yang berbeda, tapi dengan luka yang sama.

Kampus harus memilih: berdiri di sisi kebenaran, atau menjadi bagian dari masalah.

Dan kita semua juga harus memilih: diam, atau menjaga marwah keadilan.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling kuat menekan, tetapi siapa yang paling berani berdiri ketika kebenaran hampir padam.

DAMAI ITU INDAH yes semua kita sepakat dengan slogan itu. Tapi damai yang lahir dari keberanian menegakkan kebenaran—bukan dari ketakutan untuk mengungkapnya.


Oleh: M. Sanusi, S.Ag,.M.H (Presedium MD KAHMI Batang Hari) 

Post Views: 580

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar