JAMBICYBER.ID, SUNGAI PENUH - Pelayanan kesehatan di RSUD Sungai Penuh kembali menjadi sorotan tajam setelah insiden pengabaian pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) memicu kemarahan keluarga. Ketidakjelasan informasi mengenai ketersediaan ambulans serta dugaan kelalaian petugas medis memperpanjang daftar hitam komitmen pelayanan di rumah sakit milik daerah tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis (23/4/2026) malam itu bermula saat seorang pasien masuk ke IGD sekitar pukul 20.15 WIB. Alih-alih mendapatkan tindakan medis yang sigap, keluarga pasien justru dihadapkan pada ketidakpastian hingga terjadi ketegangan verbal antara keluarga dan petugas medis.
Keluarga pasien yang merasa penanganan di IGD tidak maksimal meminta agar pasien segera dirujuk ke rumah sakit di Jambi yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Namun, permintaan rujukan tersebut justru berujung polemik saat pihak rumah sakit mengeklaim tidak memiliki armada ambulans yang tersedia.
"Petugas bilang ambulans tidak ada dan menyuruh kami mencari sendiri," ujar salah satu anggota keluarga pasien saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.
Keadaan berbalik menjadi ironis ketika keluarga berhasil mendapatkan ambulans dari pihak luar. Saat armada luar tiba di RSUD, petugas rumah sakit mendadak menyatakan bahwa ambulans internal tersedia dan mewajibkan keluarga untuk menggunakannya.
Meski merasa dipermainkan, keluarga akhirnya setuju menggunakan ambulans RSUD demi keselamatan pasien, walaupun harus menanggung biaya operasional yang dinilai tinggi.
Persoalan tidak berhenti di sana. Setelah keluarga menyetujui penggunaan armada rumah sakit, ambulans yang dijanjikan ternyata tidak berada di tempat. Petugas berdalih kendaraan sedang melakukan pengisian bahan bakar.
Ketidaksiapan ini memicu adu mulut yang cukup hebat. Keluarga menilai manajemen RSUD tidak profesional dan seolah-olah menahan pasien tanpa kesiapan sarana prasarana yang jelas.
"Kami merasa dipermainkan. Awalnya dibilang tidak ada, lalu tiba-tiba ada tapi harus menunggu lagi karena isi bensin. Ini soal nyawa manusia, bukan barang," ungkap keluarga dengan nada kecewa.
Akibat sengkarut administrasi dan teknis ini, pasien baru bisa diberangkatkan menuju Jambi pada pukul 23.20 WIB. Artinya, terdapat jeda lebih dari tiga jam sejak pasien pertama kali masuk IGD hingga berhasil dirujuk.
Hingga berita ini diturunkan, Direktur RSUD Sungai Penuh, Debi Sartika, belum memberikan klarifikasi resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media pada pukul 22.00 WIB tidak mendapatkan respons.
Insiden ini menambah catatan kelam bagi RSUD Sungai Penuh. Publik kini mempertanyakan sejauh mana implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) kegawatdaruratan di rumah sakit tersebut. Ketidakpastian informasi mengenai ketersediaan alat transportasi medis krusial seperti ambulans menjadi bukti lemahnya manajemen pelayanan publik di sektor kesehatan.
Kini, masyarakat mendesak Pemerintah Kota Sungai Penuh untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran manajemen RSUD. Kegagalan dalam memberikan pelayanan yang manusiawi dan transparan dikhawatirkan akan terus menggerus kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan pemerintah. (Ngo)