Kotak Pandora di Balik Nyanyian Sang Saksi Mahkota Alung dan Gurita Sabu di Markas Polisi

Ujung Pelarian Alung: Pion atau Pembuka Jalan ke Bandar Besar dan Keterlibatan Orang Dalam? Memburu ‘Jenderal’ di Balik Skandal 58 Kilogram Sabu

Tim Redaksi 16 April 2026 2 menit baca
Bagikan:
Kotak Pandora di Balik Nyanyian Sang Saksi Mahkota Alung dan Gurita Sabu di Markas Polisi

JAMBICYBER.ID, JAMBI - Pelarian panjang M. Alung Ramadhan, tersangka yang sempat mempermalukan korps Bhayangkara dengan kabur dari lantai dua Gedung B Polda Jambi enam bulan silam, berakhir sudah. Kamis dini hari, 16 April 2026, langkah Alung terhenti di wilayah Jambi bagian Barat. Ia diringkus tim gabungan dalam sebuah operasi senyap yang juga menjaring sejumlah rekannya.

Penangkapan ini bukan sekadar keberhasilan mengamankan buronan, melainkan pembuka kotak pandora skandal narkotika berskala internasional di Bumi Langkah Serentak Tak Mau Menyerah. Alung bukan pemain amatir, ia adalah "Saksi Mahkota" sekaligus eksekutor lapangan dalam kasus kepemilikan 58 kilogram sabu yang mengguncang Jambi.

Kamis siang, suasana di depan markas Kepolisian Daerah Jambi mendadak riuh. Warga berkumpul di sekitar gerbang, berbisik-bisik soal kepulangan sang buron yang dulu lari dengan tangan terborgol melewati barisan penjagaan.

Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Erlan Munaji, mengonfirmasi penangkapan tersebut namun masih irit bicara. "Sabar dulu, nanti kita rilis," ujarnya. 

Sikap hati-hati kepolisian ini kontras dengan desakan publik. Pasalnya, penangkapan Alung memicu pertanyaan besar. Siapa saja kawan yang ikut diciduk bersamanya?

Nama-nama seperti Deka Afriadi, Okta Amalia, dan Dewi Pramita kini menjadi sorotan. Aktivis Jambi, Ridho, menegaskan bahwa jika nama-nama ini ikut tertangkap, maka struktur "gurita" narkoba ini akan runtuh hingga ke akarnya.

"Alung adalah saksi kunci. Dia eksekutor yang menerima perintah langsung dari Okta. Jika Okta dan Dewi juga tertangkap, maka sosok 'Jenderal' atau bandar besar di atas mereka seharusnya bisa terseret," kata Ridho.

Dalam catatan rekam jejaknya, Alung kerap terlihat didampingi Deka menggunakan mobil mewah Fortuner putih dan Innova Reborn hitam saat melancarkan aksi serbuk haram tersebut. Kehadiran kendaraan-kendaraan ini mengindikasikan adanya dukungan finansial yang kuat di belakang jaringan ini.

Kini, bola panas berada di tangan penyidik Polda Jambi. Tertangkapnya Alung setelah enam bulan menghilang memunculkan spekulasi liar, 

1. Dugaan keterlibatan aparat, serta mengingat Alung sebelumnya bisa melarikan diri dari dalam markas polisi, publik mempertanyakan apakah ada "orang dalam" yang bermain.

2. Dengan barang bukti 58 kg sabu, jaringan ini diyakini memiliki koneksi lintas negara.

3. Apakah pengusutan akan berhenti pada level eksekutor seperti Alung, Deka, Agit, dan Ardo, atau berani menyentuh para pemodal besar?

"Mari kita kawal kasus ini. Jangan sampai berhenti di pion-pion lapangan. Publik ingin tahu siapa gurita sebenarnya di balik skandal 58 kilogram sabu ini," tutup Ridho.

Penangkapan Alung bukan akhir dari cerita, melainkan ujian bagi profesionalisme kepolisian: apakah mereka akan memutus rantai narkoba ini hingga ke pucuknya, atau sekadar memadamkan api yang sudah terlanjur membesar di permukaan. (Tim) 

Post Views: 965

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar