Kenduri Sko Belui: Riak Rasa Syukur di Atas Atap Sumatera, Menolak Punah di Tengah Arus Modernisasi
JAMBICYBER.ID, JAMBI - Kabupaten Kerinci tidak hanya dianugerahi kemegahan visual. Di sana berdiri Atap Sumatera, Gunung Kerinci, yang menjulang 3.805 mdpl sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia. Namun, bagi siapa saja yang mendalami batin masyarakat Bumi Sakti Alam Kerinci, kekayaan sejati negeri ini justru terletak pada benteng tak kasat mata bernama adat istiadat. Salah satu puncak manifestasi kebudayaan itu akan segera mewujud di Tigo Luhah Empat Desa Belui melalui ritual sakral "Kenduri Sko".
Pada Minggu, 21 Juni 2026, masyarakat Empat Desa Belui akan berkumpul untuk melaksanakan hari nan elok, ketiko nan baik. Pertemuan ini bukan sekadar urusan logistik, melainkan sebuah musyawarah sakral untuk memulai hajat besar sepuluh tahunan sekali (atau dalam beberapa ritme dinamis menjadi agenda lima tahunan). Kenduri Sko, atau Kenduri Pusaka, adalah ritus rasa syukur sekaligus ruang pengukuhan gelar adat kepada para ninik mamak, tuo teganai, dan tokoh masyarakat. Di dalamnya, ritual pembersihan benda-benda pusaka leluhur dilakukan di bawah tatapan takzim warga luas.
Namun, di tengah gemuruh tabuh dan sakralnya prosesi, sebuah pertanyaan eksistensial merayap: Apakah Kenduri Sko akan tetap menjadi kompas moral generasi muda, atau perlahan menyusut menjadi sekadar festival budaya yang artifisial?
Tantangan terbesar kebudayaan hari ini adalah komodifikasi dan formalisasi. Ada kecenderungan mengkhawatirkan di mana acara adat yang sakral kerap direduksi menjadi sekadar agenda wisata atau seremonial birokrasi semata. Kehadiran para pejabat publik, seperti Bupati Kerinci Monadi dan jajaran undangan lainnya, tentu sangat penting sebagai bentuk legitimasi dan dukungan negara. Namun, kehadiran tersebut jangan sampai mengaburkan esensi utamanya.
Kenduri Sko harus dibaca sebagai momentum intervensi sosial. Ia harus mampu menggairahkan tiga aspek fundamental masyarakat secara simultan: sosial-budaya, sosial-ekonomi, dan sosial-keagamaan. Jika Gunung Kerinci mampu memikat pendaki mancanegara karena keindahan fisiknya, maka Kenduri Sko harus mampu memikat dunia karena kedalaman nilai filosofisnya.
Kebudayaan yang kuat tidak hanya pandai memamerkan masa lalu, tetapi juga mampu memberikan solusi atas persoalan masa kini.
Satu kelemahan mendasar dari pelestarian adat di banyak wilayah Indonesia adalah ketergantungan yang terlalu besar pada tradisi lisan (oral tradition). Saat para tetua adat, depati, dan pemangku wafat, sebagian volume pengetahuan lokal ikut terkubur bersama mereka.
Oleh karena itu, legalitas, prosedur, riwayat, dan makna filosofis dari Kenduri Sko Tigo Luhah Empat Desa Belui sudah saatnya dibukukan, dikaryakan, dan didokumentasikan secara digital.
Bagi institusi Pendidikan dan Kebudayaan, dokumentasi ini dapat menjadi materi muatan lokal di sekolah-sekolah Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
Bagi generasi muda, literasi ini meruntuhkan dinding eksklusivitas, sehingga pengetahuan adat tidak lagi monopoli para elite ninik mamak, melainkan menjadi identitas yang dipahami secara ilmiah oleh anak muda.
Masyarakat Kerinci memiliki jaring pengaman sosial yang sangat luar biasa dalam filosofi. Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Adat dan agama adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Namun, realitas hari ini memperlihatkan adanya jarak yang kian melebar antara nilai-nilai tersebut dengan realitas kehidupan generasi muda.
Ketika institusi adat dan agama kehilangan daya pikatnya di mata remaja, ruang kosong itu dengan cepat diisi oleh patologi sosial: narkoba, prostitusi, tawuran, hingga kenakalan remaja yang menyimpang. Mengatasi hal ini tidak bisa lagi dengan khotbah yang normatif atau sekadar mengekspresikan keprihatinan di media sosial.
Dibutuhkan tindakan nyata (action). Penanaman budi pekerti yang berbasis pada kearifan lokal harus digalakkan kembali di tingkat keluarga dan komunitas desa. Anak jantan dan anak betino harus diberi ruang untuk bangga pada tanah kelahirannya. Zaman boleh berubah secara digital dan global, namun kompas moral harus tetap berakar pada tanah pijakan leluhur.
Pelaksanaan Kenduri Sko di Desa Belui tahun 2026 ini harus diposisikan sebagai fajar budi pekerti yang baru. Kepada orang tua kita yang diangkat menjadi Depati, Pemangku, Ninik Mamak, dan Tuo Teganai, pundak Anda kini memikul amanah yang sangat mulia. Di tangan paratokohatas inilah, setiap persoalan anak jantan dan anak betino harus mampu diselesaikan dengan arif, tanpa harus kehilangan relevansinya di era modern.
Selamat dan sukses atas terselenggaranya Kenduri Sko Tigo Luhah Empat Desa Belui. Pesta rakyat ini adalah pembuktian bahwa di bawah bayang-bayang Bukit Barisan, sebuah peradaban yang beradat sedang merawat jalannya dengan megah. Mari kita jaga warisan ini, bukan sebagai abu dari masa lalu yang mendingin, melainkan sebagai api yang terus membakar semangat kebersamaan dan silaturahmi untuk ratusan tahun ke depan.
Penulis adalah Dedy Himawan, putra asli Empat Desa Belui yang saat ini menetap di Jambi || Opini ini disunting oleh Fengki Efniza.