JAMBICYBER.ID, KERINCI – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh kini tengah menjadi sorotan tajam. Program yang seharusnya menjadi penopang gizi generasi muda tersebut diduga kuat melenceng dari standar kesehatan dan regulasi yang ditetapkan pemerintah pusat.
Aktivis Kerinci - Sungai Penuh, Yolan, secara vokal menyoroti ketimpangan drastis antara menu yang diterima siswa dengan standar nilai gizi nasional. Ia menduga adanya unsur kesengajaan dalam pemangkasan kualitas paket makanan oleh pihak pengelola.
Berdasarkan laporan langsung dari siswa-siswi di berbagai jenjang pendidikan, ditemukan fakta lapangan yang memprihatinkan terkait komposisi paket MBG,
1. SD di Kerinci hanya menerima satu kotak susu dan dua bungkus kacang goreng untuk jatah satu hari.
2. SD di Sungai Penuh berisi dua butir telur, potongan nugget, kacang kemasan, dan makanan ringan untuk jatah dua hari.
3. SMP di Kerinci paket berisi dua kotak susu, satu camilan, roti kering, dan apel untuk jatah tiga hari.
4. SMP di Sungai Penuh hanya berisi satu buah pisang, telur puyuh, kacang goreng pedas, dan kue untuk satu hari.
5. SMA/SMK di Kerinci paket berisi roti, telur, dan kacang dalam kemasan transparan ada untuk jatah satu hari, serta jatah dua hari.
6. SMA/SMK di Sungai Penuh ditemukan paket berisi kurma, roti, apel, dan telur untuk jatah dua hari.
Yolan memaparkan adanya indikasi penyusutan anggaran yang signifikan per paketnya. Berdasarkan estimasi di lapangan, nilai paket yang dibagikan diduga hanya berkisar antara Rp7.000 hingga Rp8.000. Padahal, standar nasional mematok nilai Rp15.000 per paket.
Berikut adalah perbandingan kontras antara standar nasional dengan temuan di Kerinci-Sungai Penuh.
Perbandingan Gizi MBG Standar Nasional mulai dari Protein-Protein Hewani (Daging/Ayam/Ikan), Karbohidrat (Nasi/Kentang/Jagung) dan Vitamin (Sayur Mayor & Buah Segar) Estimasi Nilai Rp 15.000 dan Kerinci - Sungai Penuh mulai dari Protein- Protein Hewani (Telur Puyuh/Kacang Kemasan), Karbohidat (Roti Kering/Camilan), dan Vitamin (Pisang Tunggal/Kurma) Estimasi Nilai Rp 7.000 - Rp 8.000.
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa citra program unggulan Presiden RI bisa tercoreng akibat ulah oknum di daerah. Yolan mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) dan pemerintah daerah untuk tidak tinggal diam, terutama di tengah bulan suci Ramadhan ini.
"Saya meminta APH segera memeriksa dapur MBG yang ada di Kerinci dan Sungai Penuh. Pemerintah harus berani menyegel (spot) dapur yang nakal agar program ini tidak menjadi ironi," tegas Yolan.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan orang tua siswa terus menyuarakan kritik nyata agar hak gizi anak-anak mereka dipenuhi sesuai dengan standar kesehatan yang layak, bukan sekadar pemberian makanan ringan yang jauh dari kecukupan nutrisi. (Ep/Cky)