Jambicyber - Berita Jambi Terbaru

Di Ambang Bara : Menanti Ketegasan Rektor di Tengah Luka Keadilan yang Tertunda

By Redaksi | 6 April 2026

JAMBICYBER.ID, JAMBI - Di halaman kampus yang seharusnya menjadi taman bagi akal sehat dan peradaban, ada luka yang belum benar-benar sembuh. Tujuh bulan telah berlalu sejak peristiwa itu—pengeroyokan, pelecehan, dan pengrusakan simbol organisasi—namun waktu ternyata tidak cukup untuk menghapus getirnya. Ia justru mengendap, menjadi bara dalam diam, menunggu arah: apakah akan dipadamkan oleh keadilan, atau disulut oleh ketidakjelasan sikap.

Ketika enam mahasiswa telah ditetapkan sebagai tersangka, publik semestinya melihat ini sebagai awal dari pemulihan moral. Bahwa hukum bekerja, bahwa ada batas yang tak boleh dilanggar, bahkan oleh mereka yang menyandang identitas intelektual. Namun sayangnya, yang muncul justru bayangan lain—bayangan tentang kemungkinan keberpihakan yang keliru, tentang sikap yang terkesan ragu, bahkan condong membela, hanya karena ikatan organisasi.

Di sinilah kegelisahan itu tumbuh.

Sebab kampus bukan ruang bagi loyalitas sempit yang membutakan nurani. Ia adalah rumah besar bagi keadilan, tempat di mana kebenaran berdiri lebih tinggi dari afiliasi apa pun. Ketika seorang rektor tampak gamang, atau lebih buruk, terkesan melindungi mereka yang telah berstatus tersangka, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas pribadi—melainkan martabat institusi itu sendiri.

Publik tidak sedang menuntut penghukuman tanpa proses. Tidak pula meminta keputusan yang tergesa-gesa. Yang mereka harapkan sederhana namun mendasar: ketegasan moral. Sebuah sikap yang jernih, yang menunjukkan bahwa kekerasan dan pelecehan tidak memiliki tempat di lingkungan akademik—tanpa pengecualian, tanpa kompromi, tanpa tedeng aling-aling organisasi.

Sebab jika keadilan mulai ditimbang dengan kedekatan, jika kebenaran mulai dinegosiasikan dengan identitas kelompok, maka yang lahir bukan lagi institusi pendidikan, melainkan ruang kompromi yang rapuh. Dan dari ruang rapuh itulah, reaksi besar bisa tumbuh—bukan karena mahasiswa haus konflik, tetapi karena mereka kehilangan kepercayaan.

Sejarah kampus-kampus besar selalu diwarnai oleh satu hal: keberanian moral para pemimpinnya. Bukan keberanian yang lantang di podium, tetapi yang tegas dalam keputusan. Yang mampu berkata “ini salah” tanpa takut kehilangan dukungan. Yang berdiri di tengah badai, bukan berlindung di baliknya.

Hari ini, semua mata tertuju pada satu titik: sikap rektor.

Jika ia memilih diam, maka diam itu akan ditafsirkan. Jika ia memilih ragu, maka keraguan itu akan menggema. Namun jika ia memilih tegas—adil, jernih, dan berpihak pada nilai—maka ia tidak hanya meredakan luka, tetapi juga menyelamatkan masa depan kepercayaan.

Jangan sampai kampus ini dikenang bukan karena ilmu yang ia lahirkan, tetapi karena keberanian yang gagal ia tunjukkan.

Dan jangan sampai pula, bara yang kini masih tertahan, berubah menjadi nyala besar—hanya karena keadilan datang terlalu lambat, atau lebih buruk, datang dengan wajah yang tidak lagi dapat dipercaya.


Oleh: M. Sanusi, S.Ag, M.H Presedium MD KAHMI Batang Hari