Viral! Menu MBG Kerinci-Sungai Penuh Diduga Disunat, Aktivis: Coreng Wajah Presiden!
JAMBICYBER.ID, KERINCI – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia kini tengah menjadi sorotan tajam di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
Alih-alih menyajikan menu bernutrisi tinggi, paket makanan yang diterima siswa dinilai jauh dari standar layak dan diduga tidak memenuhi ketentuan anggaran nasional, Rabu (25/2/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari media sosial yang tengah viral, paket MBG yang dibagikan di sejumlah SMP dan SMA di wilayah tersebut tampak memprihatinkan.
Laporan di lapangan menunjukkan variasi menu yang dianggap sangat minim gizi,
1. Wilayah Tertentu ditemukan paket berisi beberapa butir telur puyuh, satu buah jeruk, minuman kemasan plastik, serta camilan ringan dengan kemasan sederhana.
2. Kota Sungai Penuh (SMP/SMA) ditemukan paket berupa kacang goreng dalam bungkus plastik, pisang, dan kue bolu seharga Rp1.000. Bahkan, terdapat pembagian paket untuk dua hari sekaligus yang hanya berisi beberapa butir kurma, roti, apel, dan telur.
3. Kabupaten Kerinci hampir sama dengan Sungai Penuh, tepi paket untuk durasi tiga hari diduga hanya berisi dua kotak susu, satu camilan seharga Rp2.000, roti kering, dan buah apel.
Kondisi ini memicu kecurigaan publik terkait transparansi pengelolaan dana. Muncul dugaan kuat bahwa anggaran yang terserap untuk menu tersebut hanya berkisar Rp7.000 hingga Rp8.000 per paket, angka yang berada jauh di bawah plafon standar nasional sebesar Rp15.000 (asumsi penyesuaian anggaran).
Yolan, seorang aktivis asal Kerinci-Sungai Penuh, memberikan kritik pedas terhadap fenomena ini. Ia menilai ketidaksesuaian distribusi ini sebagai bentuk sabotase terhadap program prioritas pemerintah pusat.
"Menu yang didistribusikan ke sekolah-sekolah ini sangat memalukan. Ini mencoreng wajah program Presiden RI. Jika tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan, lebih baik izin vendor atau pihak pengelolanya dicabut saja daripada terus merugikan negara," tegas Yolan.
Yolan menduga adanya praktik pengejaran keuntungan pribadi oleh pihak ketiga, baik itu yayasan, vendor, maupun investor pengelola dapur. Ia mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap aliran dana dan realisasi menu di lapangan.
Poin utama kecurigaan publik yang didominasi oleh camilan (snack) ringan dibandingkan protein utama, tidak memenuhi kriteria porsi "Makan Bergizi" yang seimbang, dugaan anggaran diperkirakan hanya bernilai Rp7.000 - Rp8.000 per paket dan diduga kuat telah melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP) nasional.
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh masih menunggu klarifikasi resmi dari dinas terkait maupun pihak penyedia layanan MBG mengenai karut-marutnya distribusi makanan yang merupakan hak gizi para siswa. (Ep/Cky)