Jambicyber - Berita Jambi Terbaru

Jejak Pelarian Alung dan Teka-teki 'Safe House' Sang Mafia

By Redaksi | 22 April 2026

JAMBICYBER.ID, JAMBI - Kaburnya M. Alung Ramdhan alias Alung dari ruang penyidik lantai 2 Mapolda Jambi menyisakan noda hitam pada sistem pengamanan korps bhayangkara. Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar rapuhnya jeruji besi, melainkan ke mana kaki sang buron melangkah ialah Kuala Tungkal, wilayah yang diduga menjadi benteng pertahanan sindikat gelap di pesisir Jambi.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pasca-meloloskan diri, Alung diduga kuat mencari perlindungan kepada sosok misterius berinisial JT, yang akrab disapa Joni Tungkal. Pelarian nekat dengan berjalan kaki menuju Aur Duri sebelum akhirnya menyeberang ke Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini memperkuat indikasi adanya jaringan terorganisir yang siap pasang badan bagi para "kurir" kelas kakap.

Nama Joni Tungkal kini menjadi sorotan tajam aktivis dan masyarakat sipil. Ridho, seorang aktivis Jambi, menyebut nama tersebut bukan orang asing di telinga warga Kuala Tungkal. Ia diduga kuat merupakan pemain kunci dalam ekosistem bisnis haram, mulai dari penyelundupan rokok ilegal di Jambi hingga peredaran narkotika jenis sabu.

"Jika Alung benar berlindung di sana, ini menegaskan adanya struktur mafia yang mapan di Jambi. Pertanyaannya, apakah Joni Tungkal juga aktor di balik layar kasus sabu 58 kilogram yang menjerat jaringan Okta dkk?" cetus Ridho, Rabu (22/4/2026).

Di akar rumput, sosok Joni ibarat hantu. Fazlul Hidayat, warga Kuala Tungkal, mengakui reputasi gelap nama tersebut telah lama beredar sebagai "bos mafia," meski wajah aslinya jarang terlihat. "Hanya nama panggilan, tapi semua orang tahu dia diduga bos besar rokok ilegal dan narkoba di sini. Serta lingkaran orang besar di Jambi yang mengatahui siapa dia," ungkap Fazlul.

Polda Jambi, melalui tim gabungan bersama Mabes Polri, memang telah berhasil meringkus kembali Alung. Namun, penangkapan ini justru membuka kotak pandora baru mengenai dugaan pembiaran terhadap bandar besar di wilayah pesisir.

Terkait desas-desus keterlibatan Joni Tungkal, pihak kepolisian cenderung bersikap hati-hati. Saat dikonfirmasi, otoritas terkait menyatakan fokus utama saat ini adalah mendalami keterangan Alung mengenai kronologi pelarian dan siapa saja yang membantunya selama masa persembunyian.

Polda Jambi kini menghadapi tantangan berat. Jika klaim masyarakat benar mengenai keberadaan bandar besar yang tak tersentuh di Kuala Tungkal, maka Kapolda Jambi memikul beban moral untuk membuktikan bahwa hukum tidak "pilih kasih" atau terjebak dalam praktik pembiaran.

Skandal pelarian ini bukan sekadar soal kelalaian penjagaan, melainkan ujian bagi Polda Jambi untuk membongkar tuntas akar sindikat narkoba 58 kg yang kian menggurita. Publik kini menunggu, apakah polisi berani menyentuh "sang pelindung" di Kuala Tungkal, ataukah nama tersebut akan tetap menjadi mitos yang tak tersentuh hukum? (Red/Dho)