Jambicyber - Berita Jambi Terbaru

Aroma Amis di Dapur MBG Kerinci-Sungai Penuh: Gizi Dipangkas, Koperasi Jadi Kedok?

By Redaksi | 10 April 2026

JAMBICYBER.ID KERINCI – Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), di wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh kini berada di bawah sorotan tajam. Dugaan praktik "mafia" di balik pengelolaan dapur MBG mencuat ke permukaan, seiring dengan munculnya laporan mengenai ketidakterbukaan informasi gizi dan hilangnya jatah susu bagi para siswa.

Aktivis Kerinci - Sungai Penuh, Yolan, secara blak-blakan mengkritik operasional Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di dua wilayah tersebut. Menurutnya, hampir seluruh akun SPPG di Kerinci dan Sungai Penuh sengaja tidak mencantumkan rincian harga per porsi maupun kandungan gizi dalam menu yang disajikan.

"Semua Dapur MBG tidak mencantumkan harga dan nilai gizi. Padahal, secara aturan, informasi itu wajib dipublikasikan sebagai bentuk akuntabilitas publik," tegas Yolan saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (10/4/2026).

Ketiadaan label gizi ini memicu kekhawatiran bahwa standar nutrisi yang diterima siswa tidak sesuai dengan mandat pemerintah pusat, sehingga program ini dinilai hanya sekadar "mengenyangkan" tanpa memberikan dampak kesehatan yang nyata.

Isu paling krusial yang dibongkar adalah dugaan adanya praktik lancung yang melibatkan pengelolaan bahan baku. Yolan menuding adanya "mafia" yang berlindung di balik kedok koperasi untuk meraup keuntungan pribadi.

"Kami menduga dapur yang ada di Kerinci dan Sungai Penuh adalah sarang mafia yang dibalut dengan kedok koperasi. Pemilik dapurnya sendiri yang mengelola koperasi tersebut," ungkapnya.

Konflik kepentingan ini ditengarai menjadi akar masalah dari buruknya kualitas layanan, di mana pengelola dapur diduga memonopoli penyediaan bahan baku melalui unit usaha mereka sendiri tanpa pengawasan ketat.

Penyimpangan yang paling kasat mata ditemukan pada hilangnya porsi susu dalam menu harian. Sesuai standar MBG nasional, susu seharusnya diberikan sebanyak 2 hingga 3 kali dalam seminggu sebagai pelengkap nutrisi penting.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Berdasarkan pemantauan selama tiga bulan terakhir, jatah susu tersebut raib dari meja makan sekolah-sekolah di Kerinci dan Sungai Penuh.

"Kami cek, kurang lebih sudah tiga bulan tidak ada susu dalam porsi MBG yang masuk ke sekolah-sekolah. Ini dugaan kuat disengaja demi mengejar margin keuntungan yang lebih besar oleh para oknum di dapur MBG," pungkas Yolan.

Praktik nakal ini dianggap sebagai bentuk sabotase terhadap visi Presiden Prabowo Subianto dalam mencetak generasi emas melalui pemenuhan gizi nasional. Alih-alih menjadi solusi stunting dan perbaikan SDM, program MBG di Kerinci dan Sungai Penuh kini justru terancam menjadi ladang "bancakan" bagi oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPPG Kerinci maupun Sungai Penuh belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan hilangnya porsi susu dan ketidakterbukaan anggaran tersebut. Masyarakat kini mendesak pihak berwenang dan inspektorat terkait untuk melakukan audit investigatif secara menyeluruh. (Iis)